ZERO SETTING AWAL DAN PENGECEKAN TOOL PADA CNC MILL
Zero setting awal (penentuan titik nol) dan pengecekan alat potong (tool checking) adalah dua tahapan paling krusial sebelum memulai proses pemesinan pada mesin CNC Milling. Jika langkah ini salah, benda kerja bisa rusak atau yang lebih parah, pahat (tool) bisa menabrak meja mesin (crash).
ZERO SETTING AWAL (MENENTUKAN WORK COORDINATE SYSTEM)
Zero setting adalah proses memberi tahu komputer mesin CNC di mana posisi tepatnya benda kerja berada di dalam ruang mesin. Koordinat ini biasanya disimpan sebagai kode G54, G55, G56, dan seterusnya. Proses ini dibagi menjadi dua bagian: mencari sumbu X/Y (posisi horizontal) dan sumbu Z (posisi ketinggian/kedalaman).
1. Mencari Posisi Sumbu X dan Y
Untuk menentukan titik tengah atau pojok benda kerja, kita menggunakan alat bantu bernama Edge Finder (pencari tepi) atau Wiggler.
- Cara kerja: Edge finder dipasang pada spindel dan diputar dengan kecepatan rendah (sekitar 500–1000 RPM). Operator menggerakkan spindel mendekati tepi benda kerja secara perlahan menggunakan handwheel (MPG).
- Titik Nol: Ketika bagian bawah edge finder menyentuh tepi benda kerja dan tiba-tiba "terlempar" ke samping (kick off), itu tandanya posisi tersebut adalah titik tepi. Operator kemudian memasukkan nilai posisi tersebut ke koordinat mesin (G54), dikurangi atau ditambah setengah dari diameter lingkaran ujung edge finder tersebut.
2. Mencari Posisi Sumbu Z (Ketinggian)
Untuk sumbu Z, kita harus memastikan ujung tool tahu persis di mana permukaan atas benda kerja berada.
- Cara kerja: Menggunakan alat bernama Z-Axis Setter (biasanya berupa blok silinder dengan dial indikator berketinggian pas 50 mm atau 100 mm) yang diletakkan di atas benda kerja.
- Titik Nol: Tool diturunkan perlahan sampai menyentuh jarum indikator Z-setter hingga menunjuk angka 0. Posisi Z tersebut kemudian dicatat pada koordinat mesin dengan memperhitungkan tinggi alat bantu tersebut.
PENGECEKAN TOOL (TOOL SETTING & CHECKING)
Setelah mesin tahu di mana letak benda kerja (WCS), mesin juga harus tahu karakteristik dari masing-masing tool yang digunakan (karena setiap pahat punya panjang dan diameter yang berbeda).
1. Pengukuran Panjang Tool (Tool Length Offset - H Code)
Setiap tool yang terpasang di magazine (pahat nomor 1, 2, 3, dst.) diukur panjang relatifnya terhadap titik acuan mesin.
- Pada mesin modern, proses ini menggunakan sensor otomatis bernama Tool Setter otomatis (seperti Renishaw). Tool akan turun otomatis, menyentuh sensor, dan mesin langsung mencatat panjangnya ke tabel offset (H1, H2, H3, dst.).
- Jika manual, operator menggunakan Z-setter atau kertas tipis di atas benda kerja untuk mencari kerataan ujung tiap tool.
2. Pengukuran Diameter Tool (Tool Cutter Compensation - D Code)
Mesin perlu tahu diameter aktual tool (misal End Mill diameter 10 mm) agar jalur pemotongan tidak meleset (offset radius). Nilai ini dimasukkan ke tabel offset sebagai kode D.
3. Pengecekan Fisik Visual Sebelum Running
Sebelum tombol Cycle Start ditekan, operator wajib melakukan pengecekan akhir:
- Kondisi Mata Pisau: Pastikan tidak ada keretakan atau keausan (chipping) pada ujung insert atau flute pahat.
- Kekencangan Collet/Holder: Pastikan tool tercekam dengan kuat di tool holder agar tidak merosot atau lepas saat menerima beban potong.
- Kesesuaian Nomor Pahat: Pastikan tool nomor 1 di mesin sama persis dengan tool nomor 1 yang ada di program (CAM).
-= TERIMA KASIH =-

Posting Komentar