TEKNIK FINISHING PADA PEMBUBUTAN PROFIL
Pembubutan profil (profile turning) pada mesin bubut konvensional adalah proses membentuk benda kerja dengan kontur yang tidak lurus, seperti bentuk radius (cembung/cekung), tirus bertingkat, atau kurva khusus.
Tahap finishing (penyelesaian) pada proses ini sangat krusial karena bertujuan untuk mencapai kehalusan permukaan (surface finish) yang optimal dan dimensi akhir yang presisi sesuai toleransi gambar kerja.
1. TEKNIK PENGERJAAN FINISHING PROFIL
Pada mesin konvensional yang tidak dikendalikan oleh komputer (CNC), membuat profil lengkung yang halus membutuhkan teknik khusus:
- Menggunakan Pahat Profil (Form Tool): Ini adalah cara paling umum untuk profil yang pendek dan sederhana. Pahat bubut (biasanya HSS) digerinda dan dibentuk persis seperti kebalikan dari profil yang diinginkan. Saat finishing, pahat ini ditekan tegak lurus ke arah benda kerja (plunge cutting). Teknik ini membutuhkan putaran mesin yang stabil untuk menghindari getaran (chatter) yang bisa merusak kehalusan benda kerja.
- Kombinasi Gerakan Eretan (Manual Tracing): Untuk profil yang panjang atau kompleks, operator akan melakukan roughing (pembubutan kasar) dengan membuat bentuk undakan (seperti tangga) yang mendekati garis profil. Pada tahap finishing, operator menggunakan kedua tangannya untuk memutar eretan memanjang (carriage) dan eretan melintang (cross slide) secara bersamaan. Ini membutuhkan feeling dan keahlian tinggi agar pahat bergerak mengikuti kurva dengan mulus.
- Teknik Filing (Mengikir) dan Polishing (Mengamplas): Seringkali, sayatan pahat pada mesin konvensional masih meninggalkan bekas undakan kecil atau kurang mulus. Tahap akhir finishing sering dibantu dengan kikir halus (untuk meratakan profil radius) dan dilanjutkan dengan amplas (kertas gosok) metalik dengan grade halus sambil benda kerja terus berputar di chuck.
Sumber : tiktok.com/@masfato
2. PENGATURAN PARAMETER PEMOTONGAN
Untuk menghilangkan jejak sayatan (feed mark) dan mendapatkan permukaan yang mengkilap, setting mesin harus diubah drastis dari saat proses roughing:
- Putaran Spindel (Spindle Speed / n): Diatur lebih tinggi. Putaran yang cepat membantu pahat memotong material dengan lebih bersih, bukan merobeknya. (Pastikan kecepatan tetap dalam batas aman dan memperhitungkan diameter benda kerja untuk menghindari chatter).
- Gerak Makan (Feed Rate / f): Diatur sangat rendah atau lambat. Gerak pemakanan yang lambat membuat jarak antar sayatan menjadi sangat rapat, sehingga permukaan terasa halus.
- Kedalaman Potong (Depth of Cut / a): Sangat tipis. Sisakan material dari proses roughing sekitar 0.1 mm hingga 0.5 mm saja untuk disayat pada tahap finishing.
3. PERSIAPAN PAHAT (TOOLING)
Geometri dan kondisi pahat sangat menentukan hasil akhir:
- Ketajaman Pahat: Pahat finishing harus ekstra tajam. Jika menggunakan pahat HSS, setelah digerinda, mata potongnya sebaiknya di-honing (digosok dengan batu asah halus) untuk menghilangkan sisa gerinda mikroskopis sehingga mata potong benar-benar licin dan tajam.
- Radius Ujung Pahat (Nose Radius): Gunakan pahat dengan radius ujung yang sedikit lebih besar dan membulat (bukan lancip). Radius ujung yang membulat akan menyapu dan meratakan permukaan logam jauh lebih baik daripada ujung yang tajam.
- Sudut Buang (Rake Angle): Pastikan pahat memiliki sudut buang positif yang cukup agar beram (tatal/serpihan) bisa mengalir keluar dengan lancar dan tidak menggulung di sekitar benda kerja.
4. PENGGUNAAN CAIRAN PENDINGIN (COOLANT)
Pada tahap finishing, coolant wajib digunakan dan dialirkan secara deras tepat ke titik potong. Coolant memiliki fungsi ganda: menurunkan suhu (mencegah benda kerja memuai yang bisa mengubah ukuran) dan, yang paling penting, membilas beram kecil agar tidak terselip di antara pahat dan benda kerja yang dapat menyebabkan baret halus pada permukaan yang sudah jadi.
Posting Komentar