BATU GERINDA PADA MESIN GERINDA
Batu gerinda (grinding wheel) pada dasarnya terdiri dari dua komponen utama: butiran abrasif (yang berfungsi sebagai pisau pemotong mikroskopis) dan bahan perekat (bond, yang mengikat butiran tersebut menjadi satu kesatuan). Untuk memastikan batu gerinda yang digunakan sesuai dengan material benda kerja, produsen menggunakan sistem kode identifikasi standar internasional (ISO).
Kode batu gerinda selalu dicetak pada label di bagian tengah batu (kertas penahan). Format standarnya terdiri dari 5 elemen utama (terkadang ditambah kode khusus pabrik di awal atau akhir). Contoh kode :
A 46 K 8 V
Keterangan :- A = Jenis Bahan Asah (Abrasif)
- 46 = Ukuran Butiran (Grit Size)
- K = Tingkat Kekerasan (Grade)
- 8 = Struktur (Structure)
- V = Jenis Perekat (Bond)
1. JENIS BAHAN ASAH (ABRASIF)
Bahan asah menentukan jenis material benda kerja yang bisa dipotong.
- A (Aluminium Oksida): Berwarna abu-abu, coklat, atau merah muda. Paling umum digunakan untuk menggerinda logam dengan tegangan tarik tinggi seperti baja karbon, baja paduan, dan besi tempa.
- C (Silikon Karbida): Berwarna hitam atau hijau. Lebih keras namun lebih rapuh dari Aluminium Oksida. Digunakan untuk logam bertegangan tarik rendah (besi tuang, kuningan, aluminium) dan material non-logam (keramik, batu, karbida).
- D (Diamond / Intan): Sangat keras, digunakan untuk menggerinda material karbida semen, kaca, dan keramik.
- B (Cubic Boron Nitride / CBN): Digunakan khusus untuk baja perkakas (tool steel) dan baja paduan super keras yang sulit dikerjakan oleh Aluminium Oksida.
2. UKURAN BUTIRAN (GRIT SIZE)
Angka ini menunjukkan seberapa besar atau kecil butiran abrasif. Semakin besar angkanya, semakin halus butirannya.
- Kasar (10 - 24): Untuk pemakanan material yang banyak dan cepat (roughing). Hasil permukaan kasar.
- Sedang (30 - 60): Untuk penggerindaan umum.
- Halus (70 - 180): Untuk penyelesaian akhir (finishing) dengan toleransi ketat.
- Sangat Halus (220 - 600): Untuk memoles dan pekerjaan super presisi (super finishing).
3. TINGKAT KEKERASAN (GRADE)
Tingkat kekerasan disimbolkan dengan huruf alfabet A hingga Z. Ini bukan menunjukkan kekerasan butiran abrasifnya, melainkan kekuatan perekat dalam menahan butiran abrasif saat memotong.
- A - H (Lunak): Perekat mudah melepaskan butiran. Aturan emas: Gunakan batu gerinda lunak untuk menggerinda benda kerja yang keras. (Material keras membuat butiran cepat tumpul, sehingga butiran yang tumpul harus segera lepas agar butiran baru yang tajam di bawahnya muncul).
- I - P (Sedang): Digunakan untuk pekerjaan umum.
- Q - Z (Keras): Perekat memegang butiran dengan sangat kuat. Digunakan untuk material yang lunak (karena butiran tidak cepat tumpul, perekat harus menahannya selama. mungkin).
4. STRUKTUR (STRUCTURE)
Disimbolkan dengan angka (biasanya 1 hingga 15), menunjukkan jarak kerenggangan antar butiran abrasif (porositas).
- 1 - 8 (Padat / Dense): Jarak antar butir rapat. Digunakan untuk hasil akhir yang sangat halus atau benda kerja yang keras.
- 9 - 15 (Renggang / Open): Jarak antar butir renggang. Memiliki ruang (pori-pori) yang lebih besar untuk menampung gram/tatal (chip) sisa gerinda. Digunakan untuk pemakanan berat atau menggerinda material lunak (agar batu tidak cepat buntu/kotor oleh sisa gram).
5. JENIS PEREKAT (BOND)
Menentukan seberapa kuat batu gerinda berputar pada kecepatan tertentu dan menahan panas.
- V (Vitrified): Perekat dari bahan tanah liat/keramik yang dibakar. Paling umum digunakan (sekitar 75% batu gerinda). Sangat kaku, tahan air dan minyak, tetapi rapuh jika terkena benturan.
- B (Resinoid / Bakelit): Kuat dan lentur, tahan terhadap guncangan. Sering digunakan pada mesin gerinda tangan atau pemotongan kasar.
- R (Rubber / Karet): Sangat lentur. Digunakan untuk batu gerinda potong (cutting wheel) yang sangat tipis dan pekerjaan poles tinggi (seperti gerinda silindris tanpa senter).
- S (Silikat): Lebih lunak dari Vitrified, melepas butiran lebih cepat. Digunakan untuk mengasah alat potong agar tidak mudah panas.
Posting Komentar